x

Tragedi Maut di Perlintasan Desa Penaruban Weleri :PT KAI Dinilai Tutup Mata Terhadap Keselamatan Warga

waktu baca 3 menit
Sabtu, 28 Mar 2026 10:18 5 Redaksi Nyaman

zonacakrawala.com KENDAL – Suasana duka menyelimuti Desa Sambungsari, Kecamatan Weleri, setelah salah satu warganya, Bapak Nasikin, S.STP., dilaporkan meninggal dunia akibat kecelakaan tragis di perlintasan kereta api tanpa palang pintu otomatis di Desa Penaruban, Sabtu (28/03/2026). Insiden yang terjadi sekitar pukul 10.15 WIB ini kembali memicu kritik tajam terhadap PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dianggap lamban dan seolah tidak merespons kerawanan di titik tersebut.

 

​Kronologi kejadian bermula saat korban yang mengendarai sepeda motor Honda PCX dengan nomor polisi H 2057 QM hendak melintasi rel kereta api di wilayah Desa Penaruban. Namun naas, di saat yang bersamaan muncul kereta api yang melaju kencang. Benturan keras pun tak terhindarkan, mengakibatkan korban terpental dan mengalami luka serius.

 

​Petugas dari Polsek Weleri segera tiba di lokasi untuk melakukan evakuasi dan melarikan korban ke Rumah Sakit Islam (RSI) Muhammadiyah Kendal. Meski tim medis telah berupaya maksimal, nyawa Bapak Nasikin tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia sesaat setelah sampai di rumah sakit.

 

​Berdasarkan pantauan awak media di lapangan, perlintasan tersebut selama ini hanya dijaga oleh tenaga sukarela tanpa dukungan fasilitas resmi dari pihak terkait. Salah seorang penjaga perlintasan manual yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan fakta pahit mengenai sistem pengamanan di lokasi tersebut.

​Ia mengaku tidak mendapatkan upah atau honor sepeser pun dari PT KAI. Selama ini, ia bertahan hanya dengan mengandalkan pemberian sukarela dari pengguna jalan yang melintas. Saat kejadian nahas itu berlangsung, ia sedang meninggalkan pos sejenak untuk mencari air minum karena kehausan.

 

​”Saya di sini hanya tenaga sukarela, tidak ada bayaran dari pihak PT KAI. Terkait kejadian laka tadi, saya memang sedang mencari minum. Penghasilan saya hanya dari kasih sayang pengguna jalan, jadi mohon maaf kalau sampai ada yang tertabrak,” ujarnya dengan nada pasrah.

​Kejadian ini menambah daftar panjang kecelakaan di perlintasan sebidang wilayah Weleri. Sikap PT KAI yang terkesan membiarkan perlintasan rawan hanya dijaga oleh relawan tanpa jaminan kesejahteraan dan peralatan yang memadai dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap keselamatan publik.

 

​Kekecewaan warga semakin memuncak mengingat status perlintasan Penaruban yang tergolong padat kendaraan namun tetap dibiarkan manual tanpa palang pintu otomatis. Masyarakat mendesak agar PT KAI maupun Dinas Perhubungan segera mengambil langkah konkret—baik dengan menutup perlintasan ilegal, memasang palang otomatis, atau setidaknya memberikan edukasi dan upah layak bagi penjaga setempat agar pengamanan tetap terjaga selama 24 jam.

 

​Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait insiden tersebut, sementara jenazah korban telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

 

Red:

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x